Memulai Karir sebagai Konsultan: Lesson Learned
Sebenarnya aku berada di dunia kerja yang dinamis dan membuat deg-degan secara periodik. Sebagai konsultan, setiap kali proyek mendekati masa akhir, hati langsung bertanya bulan besok ada kerjaan lagi nggak ya? Cemas? Nggak juga sebenernya, karena aku yakin bahwa rejeki itu udah dijamin, cuma waktu turunnya aja yang kadang nggak sesuai dengan kebutuhan, makanya ini menjadi bagian dari doa rutinku pada sang Maha Pengatur, minta tolong rejeki diatur sedemikian rupa supaya semua proses di kehidupanku berjalan lancar, aman dan berkah.
Aku sudah menjalankan profesi Konsultan Manajemen Kesehatan ini lebih dari 10 tahun, benar-benar murni sebagai konsultan, bukan kerja sampingan. Sebelumnya aku kerja di manajemen rumah sakit, waktu itupun aku sudah menjadi konsultan juga hanya saja belum berani melepaskan diri, masih merasa aman kalau nyambi sebagai direksi.
Jadi, karirku sebagai konsultan sebenernya nggak dimulai dari nol sih, aku pindah jalur, dari dunia kantoran yang jelas ke dunia konsultan yang (pada saat itu) memunculkan pikiran "kok begini amat ya?", yang membuat aku serasa berada di roller coaster, penuh gonjang-ganjing dan momen yang ngeri-ngeri sedap. Pada fase transisi itu, aku dituntut untuk segera berubah, menyesuaikan diri dengan ketidakpastian dan harus pandai adaptasi serta harus siap dengan segala risiko yang melekat dalam pekerjaan misalnya timeline bisa bergeser, ruang lingkup bisa melebar, dan output sering harus menyesuaikan maunya banyak pihak sekaligus, padahal di proyek kita menghadapi limitasi yang di awal sudah disepakati yaitu waktu penyelesaian pekerjaan nggak bisa bergeser, scope yang menjadi tanggung jawab sudah jelas dan deliverable yang dihasilkan udah ditentukan di dalam TOR. Selain itu, kita pun seolah bekerja di antara banyak kepentingan. Ini yang meski kita kelola. Bikin deg-degan lah pada awalnya.
Pindah jalur ke dunia konsultan yang dinamis itu aku lakukan bukan karena terperosok tak sengaja, aku sudah tau di dunia mana aku akan berkiprah. Sesuai dengan bekal pengalaman kerja di rumah sakit, tentu saja aku mau jadi konsultan rumah sakit, hanya saja pada saat itu aku belum punya gambaran jelas, masih samar sih pekerjaan konsultan rumah sakit itu seperti apa, apa yang dikerjakan?, ada kliennya kah? tapi karena tekad sudah seperti bulan purnama, bulat sempurna, aku tetap jalan, apalagi aku sudah membekali diri dengan mengikuti pelatihan dan sertifikasi konsultan manajemen kesehatan. Melangkah sudah percaya diri. Mulailah aku berprofesi sebagai konsultan dan berhasil mendapatkan proyek pertama, rumah sakit swasta di Kota Tangerang.
Yang dilihat orang sekarang: "Enaknya, kerjaannya ada terus"
Pada posisi sekarang, memang harus aku akui bahwa nggak jarang orang termotivasi dan ingin seperti kita hari ini karena melihat portofolio, ritme kerja yang sudah terbentuk dan mereka melihat bahwa kita terlihat nyaman sebagai konsultan. Yang nggak mereka sadari adalah ada proses panjang yang sudah aku lalui untuk sampai pada titik dimana aku terlihat oleh mereka sekarang. Itu perlu waktu lebih dari 10 tahun lho, dan menempuh jalan yang berliku dan nggak selamanya mulus.
Tapi pada akhirnya aku sampai juga pada kesimpulan bahwa memang semenyenangkan itu menjadi konsultan. Banyak hal yang aku dapatkan dan pelajari dari profesi ini. Ada keterampilan yang ikut berkembang seiring dengan berjalannya tahun dan bertambahnya proyek yang aku kerjakan, keterampilan ini menurutku sangat perlu dimiliki oleh seorang konsultan yaitu mampu mengelola ekspektasi, membaca konteks dan membangun hubungan kerja lintas pihak. Kadangkala orang (klien) berharap bahwa konsultan bisa menyelesaikan semuanya. Kita harus menyadari bahwa konsultan bukan lah manusia si paling bisa menyelesaikan semuanya, si paling tahu dan selalu punya jawaban, sehingga ekspektasi orang yang mengira demikian harus dikelola. Jangan sampai lah kita berfikir bahwa konsultan adalah manusia dengan kantong Doraemon, selalu punya apa saja yang klien minta. Sebagai konsultan, kita harus paham batas kapabilitas kita, dan itu merupakan bagian dari profesionalisme kita.
Pelajaran lain yang aku catat dari pengalaman selama ini adalah konsultan perlu memiliki keterampilan komunikasi, karena keberhasilan pekerjaan konsultan sangat tergantung komunikasi. Bisa jadi kita juaranya dalam urusan analisis, mahir untuk menemukan problem, tau rekomendasinya, tapi kalau kita nggak bisa membuatnya doable, nggak bisa dipakai oleh stakeholder, maka analisis itu akan tetap tinggal sebagai dokumen aja, rekomendasi pun nggak pernah dieksekusi untuk bisa jadi solusi. Menurutku, konsultan itu pekerjaan komunikasi, kemampuan kita menyusun pesan, menata struktur, dan menjelaskan alternatif solusi merupakan hal penting yang perlu kita kuasai. Kalau mau belajar, jam terbang akan mengasah keterampilan komunikasi itu.
Berikutnya, dari pengalaman sekian tahun dalam profesi ini, aku juga belajar dan terbuka mata bahwa kerja konsultan itu adalah menjaga konsistensi. Kemampuan kita untuk bisa memberikan respon cepat pada klien secara konsiten, senantiasa melakukan update secara rutin, komitmen pada deadline, hal-hal seperti ini lah yang akan membangun reputasi yang mana pada akhirnya reputasi itu akan berubah wujud menjadi kepercayaan. Kalau sudah demikian, seringkali kita nggak perlu sibuk mencari proyek, kerjaan datang dengan sendirinya karena orang merasa aman dan nyaman bekerja dengan kita, karena mereka percaya bahwa kita bisa diandalkan, karena komunikasi kita dinilai fleksibel, dan pasti karena kita dinilai konsisten dalam menjaga kualitas.
Jadi, apa yang dilihat orang pada titik ini, disebaliknya ada proses panjang yang nggak sebentar, ada fase belajar yang nggak putus-putus, namun demikian itu semua akan bisa dilewati, dan kamu bisa menemukan irama kerjamu sendiri sehingga bukan mustahil untuk juga sampai pada ujungnya dimana kamu bisa berucap "iya ya, pekerjaan konsultan semenyenangkan itu".
Jadi, mau memulai karir sebagai konsultan? Yuk lah, aku dukung. tapi perlu diingat bahwa menetapkan pilihan karir sebagai konsultan nggak cukup dimulai dengan "aku pengen jadi konsultan" lho ya, ada yang perlu disiapkan.
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Memulai karir sebagai konsultan", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/yoenaulina/695e8725c925c445f009b393/memulai-karir-sebagai-konsultan
Kreator: Yoen Aulina Casym